Berbekal Udara
Saat aku kecil tapi tidak
benar-benar kecil aku menempuh
pendidikan di Sekolah Dasar yang bangunannya tak besar yang hanya mempunyai beberapa ruang kelas. Lapangan
utamanya kecil. Saat upacara bendera saja sebagian siswa harus
berdiri di bagian kantin sekolah.
Siswa disekolah kami sering menjadi bahan kalah-kalahan untuk sekolah lain saat ada pertandingan olahraga. Beberapa siswa kami dipaksa oleh sekolah untuk ikut andil
dalam pertandingan. Namun
begitulah, karena tak ada tempat untuk latihan kami selalu
menjadi badut lucu saat
pertandingan. Pernah dahulu iseng berlatih sepak takraw dengan teman-teman, hasilnya kaca kelas pecah karena terkena bola takraw. Sudahlah, tak ada yang bisa dibanggakan,
kecuali Drumband.
Beberapa hari sekali kelas kami mengadakan kegiatan
makan Bersama, dimana setiap anak didalam kelas harus membawa
makanannya sendiri dari rumah untuk dimakan dikelas bersama teman-teman yang
lainnya. Makanan yang dibawa pun bebas, namun tidak bebas membawa minuman.
Pernah sesekali temanku membawa bir kalengan milik ayahnya untuk dipamerkan ke
teman-teman yang lain, namun bir tersebut berakhir tanpa cerita karena disita. Hahaha
Sebelum menyantap bekal
makanan, aku diminta guruku untuk
mengembalikan gunting ke meja guru, kulihat kaleng bir milik temanku tadi dengan keadaan terbuka. Isi bir tersebut masih setengah. Melihat keadaan sepi,
akhirnya kusita air dari dalam kaleng bir tersebut dan kutinggalkan kalengnya
saja. Sedikit pahit namun segar rasanya.
Kegiatan makan bersama dimulai setelah berdoa. Setiap anak didalam kelas mengeluarkan bekalnya masing-masing yang
sudah disiapkan untuk dimakan
didalam kelas bersama-sama.
Akhirnya setiap anak menikmati
bekal makanan mereka. Tapi aku
melihat satu temanku yg duduk
di tengah-tengah kelas hanya melihat teman-teman lainnya makan. Dia tak mengeluarkan bekalnya untuk dimakan. Kuhampiri
dia dan bertanya mengapa dia tak ikut makan bersama. Dia menjawab, "Bisa sekolah saja orang tuaku sudah bekerjanya sangat
keras, mana tega aku meminta mereka untuk membawakan
aku bekal ke sekolah," katanya dengan santai sambil mengusap poni
rambutnya kebelakang.
Kuambil bekal mie instanku yg
tadi sudah kumakan sedikit dan kutaruh didepan temanku itu. "Jangan kau makan semuanya ya, aku juga lapar.
Sosisnya untukmu saja," pesanku untuknya. Dia mengangguk dan memakan bekal
makananku setengah.
Pada minggu berikutnya pada
acara makan bersama di kelas kulihat temanku itu tak membawa bekal lagi, kuhampiri
lagi dia dengan membawa bekal makananku menuju tempat duduknya.
Apes sekali, sebelum sampai ke tempat duduknya kakiku tersandung oleh kaki temanku yang
terkenal bau kakinya. Tumpahlah bekal makananku, yang kubawa adalah bubur. Permintaan maaf cengengesan yang
aku terima dari si kaki bau itu. Menjengkelkan sekali dia.
Kubersihkan buburku yang tumpah dengan rasa jengkel karena guruku sudah memasang muka marah dan
terlihat lumayan menjijikkan karena ada kotoran sisa makanan yang terdapat disekitar mulutnya dan masuk disela-sela
bulu-bulu kumisnya.
Setelah kubersihkan, lalu aku duduk di samping temanku yang tak membawa bekal. Hingga acara makan bersama berakhir
kami menikmati kelaparan dalam acara makan bersama itu. Ternyata lebih enak berbagi makanan daripada berbagi
kelaparan dalam kelimpahan makanan.

Komentar
Posting Komentar