Didi Kempot, Lebih Dari Sekedar Patah Hati
Adanya
“Sobat Ambyar“ tak lepas dari penyanyi yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah yaitu Didi Prasetyo yang kerap disapa
Didi Kempot. Sosok Didi sendiri berasal dari keluarga seniman yang cukup
terkenal pada eranya. Bagi penikmat musik hiphop Indonesia yang pernah
mendengarkan lagu berjudul “Cintamu Sepahit Topi Miring” milik Jahanam pasti
pernah mendengar nama Ranto Gudel yang disebut-sebut pada lagu tersebut. Suharanto
atau sering dipanggi Ranto Edi Gudel, sosok tersebut adalah ayahanda dari Didi.
Didi juga merupakan adik kandung dari pelawak Mamiek Prakoso atau Mamiek Podang
yang memiliki ciri khas rambut pirang pada bagian kanan kiri rambutnya.
Hanya
menyebut nama Didi sepertinya agak kurang spesifik ya? nanti malah disangka Didi
Riyadi, atau malah Didi Corbuzier. Berarti mari kita menyebut namanya lengkap
saja.
The Godfather of Broken Heart ini terkenal karena
lagu-lagunya yang patah hati. Lagu-lagu patah hati tersebut sangat digemari
oleh Sad Boys dan Sad Girls, begitu sapaan untuk para penggemar
kekinian dari Didi Kempot. Lagu-lagu yang dilantunkan oleh Didi Kempot kini
menjadi media pemersatu oleh anak-anak muda yang pernah mengalami patah hati
selain “bagi link”.
Namun
dibalik lagu-lagu Didi Kempot tentang patah hati yang terkenal ternyata
terdapat beberapa lagu yang memiliki nilai selain patah hati. Jauh sebelum Didi
Kempot melejit dikalangan anak muda sekarang ini, saya tak sengaja menemukan
beberapa lagu dari Didi Kempot yang cukup menarik karena tak bercerita tentang
perasaan ambyarnya hati. Saya menemukan 3 lagu yang saya gemari, belum menemukan yang lain lagi.
Yang
pertama adalah lagu berjudul “Gelombang Cinta” ciptaan Didi Kempot dan Mien
Lengok. Masih lagu dengan lirik bahasa Jawa, dalam lantunan lagu tersebut
diceritakan tentang fenomena tanaman yang mahal harganya. Tanaman yang bernama
Gelombang Cinta atau Jemani dulu harganya bisa mencapai ratusan juta. Pada lagu
tersebut diceritakan bahwa tetangganya mengorbankan rumah dan sawahnya untuk
dijual hanya untuk membeli tanaman
tersebut.
Tetangganya
yang bernama Lik Parmin rela menjual sapi-sapinya karena saking gilanya ingin membeli
tanaman tersebut. Namun malang nasib dari Lik Parmin, Jemani yang dibelinya
dimakan oleh kambing jantan miliknya.
Terdengar cukup jenaka dalam lantunan lagu tersebut. Tapi sepertinya masih sakit hati juga lagunya, benar-benar sakit namun tak berdarah. Ya
tetep ambyar hatinya. So Sad.
Lagu
kedua berjudul Layang Kangen. Menurutku tak ada rasa patah hati dalam lagu ini.
Lagu ini dirasa cukup dalam maknanya untuk pasangan long distance
relationship (LDR) atau pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh. Untuk
pasangan yang tidak pernah merasakan LDR mungkin tak begitu berdampak saat
mendengarkan lagu ini, namun pasangan yang menjalani LDR dan menghayati lirik
lagu ini akan amat sangat terharu bahkan
dapat sampai meneteskan air mata. Mungkin terdengar hiperbola, tetapi
memang begitu adanya.
Lagu
ini bercerita tentang surat yang disampaikan untuk kekasihnya yang berisikan
tentang kerinduan yang terpendam hingga tidak sadar sampai meneteskan air mata
saat membaca goresan tinta yang tertoreh dalam surat cinta tersebut. Sepertinya
lagu ini menceritakan tentang kejadian dari beberapa waktu yang lalu saat belum
adanya teknologi untuk berkomunikasi sehingga untuk berkomunikasi jarak jauh
saja masih menggunakan surat-menyurat.
Si
pembaca dari surat tersebut berandai-andai jika tangannya adalah sayap burung,
dirinya akan langsung terbang menghampiri sang pujaan hati yang jauh jaraknya.
Ia hanya ingin bertemu ataupun sekedar melihat kekasihnya karena rindu yang teramat
dirasakan. Saking rindunya, untuk tidur saja susah karena selalu terbayang
bayang-bayang kekasihnya. Rindu yang dirasakan hanya mampu untuk tertahan karena
jarak yang memisahkan hingga dia ingin meyakinkan kekasihnya untuk tetap
percaya dan kuat menghadapi keadaan untuk nantinya bisa bertemu dan melepas
rindu yang amat sangat dalam.
Menurut
saya tidak ada rasa patah hati didalam lagu ini. Hanya rasa rindu yang amat
sangat untuk sepasang kekasih yang terpaut oleh jarak yang jauh. Rindu bukanlah
sebuah rasa patah hati. Rindu merupakan sesuatu yang amat sangat bahagia bagi
saya, karena rindu adalah anugerah dari Sang Pencipta yang diberikan untuk
dirasakan dalam sebuah hubungan kekasih. Saat tak pernah merasa rindu,
seseorang tak akan merasakan sesuatu yang spesial dari kekasihnya. Tapi saat
rindu melanda, rasa yang susah untuk diugkapkan tersebut akan meledak setelah
sepasang kekasih jumpa. Sepasang kekasih itu akan benar-benar memanfaatkan
waktu yang ada sebelum muncul lagi rasa rindu karena jarak. Orang-orang
sekarang mungkin menyebutnya quality time. Susah untuk menjelaskan
tentang rasanya saat bertemu dengan kekasih setelah rindu yang cukup menghantui
hari-hari yang dilewati.
Mungkin
yang akan membuat patah hati adalah saat seseorang amat rindu dengan
kekasihnya, namun kekasihnya punya kekasih lagi di tempat lain, itu patah hati
yang next level. Namun kisah penghianatan tidak diceritakan dalam lagu
ini, hanya rindu. Memang rindu itu berat, biarkan Dilan saja yang merasakannya,
biar pemeran Milea untuk saya saja, kalau mau.
Dan
lagu yang ketiga berjudul “Bakso Sarjana”. Saya sungguh suka dengan lagu ini setelah
lagu “Layang Kangen” dan lagu-lagu yang lainnya. Saya tidak menemukan sesuatu tentang
patah hati di lagu ini.
Lagu
ini bercerita tentang anak pedagang bakso keliling yang akhirnya bisa lulus di
bangku perkuliahannya dan menjadi seorang sarjana. Dalam lagu ini seorang anak
perempuan pedagang bakso keliling yang telah lulus sekolah berkeinginan untuk
kuliah. Namun keadaan Sang Bapak sebenarnya kuranglah mapan untuk mencukupi
anaknya yang kuliah. Sang Bapak hanya berdoa kepada Sang Pencipta untuk
diberikan berkat supaya dapat mencukupi kebutuhan keluarganya karena dia sadar
bahwa dia hanyalah orang kecil yang tidak
punya uang yang cukup. Sang Bapak hanya berjuang melakukan yang terbaik untuk
keluarga dan anaknya yang kuliah dan berpesan bahwa nantinya jika di kota harus
berhati-hati.
Setelah
anaknya pergi ke kota untuk berkuliah Sang Bapak amat sangat gembira mendengar
kabar dari anaknya akhirnya bisa lulus kuliah. Kabar gembira tersebut
diibaratkan seperti orang yang menang lotre atau undian. Anak yang diharapkannya
akhinya bisa lulus kuliahnya dan menjadi sarjana.
Sang
Bapak sangat bangga dan bersyukur karena
menyadari bahwa dengan pekerjaannya menjadi tukang bakso keliling yang tidak
bisa membaca dan menulis bisa menyekolahkan anaknya hingga lulus kuliah dan
menjadi sarjana.
Saya
dulu adalah orang yang malas kuliah dan malas mengerjakan skripsi yang saya
buat, namun setelah tidak sengaja mendengar lagu ini dan menghayati lagu “Bakso
Sarjana”, hati saya langsung tergugah untuk segera menyelesaikan perkuliahan
saya karena saya sadar bahwa biaya kuliah itu tidaklah murah. Setelah saya
sadar akhirnya saya kebut skripsi saya yang sudah lama tak saya sentuh. Saya cukup
berterimakasih kepada mas Didi Kempot karena telah menciptakan lagu ini dan
lewat lagu ini saya jadi tersadarkan untuk segera memperoleh gelar sarjana.
Namun
lagu “Bakso Sarjana” saja sepertinya hanya cukup untuk menuntun saya mencapai
gelar sarjana saja. Ternyata dampak bermalas-malasan saya saat kuliah itu
membuat saya tidak begitu mempunyai keahlian yang cukup untuk bersaing dengan
sarjana-sarjana yang lainnya untuk mendapatkan pekerjaan.
Lagu
“Sarjana Muda” milik Iwan Fals sepertinya cocok untuk menemani saya sekarang
ini. Duh.
Udah
lah, saya mau cari-cari kerja lagi. Walau saya bukan lulusan UI tapi saya mau
kok digaji 8jt per bulan. Terlebih digaji 8jt tapi tidak melakukan apa-apa dan
bersantai di rumah saja.
Hahaha
Kalau
ada lowongan pekerjaan yang ringan dengan gaji yang lumyan, jangan sungkan
untuk menghubungi saya ya. Saya akan bersemangat pastinya.
Hahaha
Salam
dari sarjana yang pandai untuk menghayal saja.

Komentar
Posting Komentar