Belalai Pantat




Suatu hari dimusim kemarau pertengahan tahun, terdapat 1 kawanan gajah yg terdiri dari 10 ekor gajah yang berumur berkisar 20tahunan. Kawanan tersebut menempati sebuah hutan tropis yang sedang memasuki musim kemarau panjang. Kemarau yang panjng menyebabkan kekeringnya mata air di hutan tempat tinggal mereka. Kawanan gajah pun memutuskan untuk bermigrasi ke tempat yang terdapat air untuk mereka bertahan hidup.
Di kawanan tersebut terdapat satu gajah yang penuh energi, gajah itu bernama Egos. Egos bukanlah ketua dari kawanan tersebut.
Saat dalam perjalanan mencari sumber air, kawanan gajah berjalan sambil berfikir untuk mempersiapkan apa yang harus dilakukan untuk bisa mencapai sumber air dan bagaimana cara agar bisa berebut sumber air dengan kawanan hewan yang lainnya.
Saat teman-teman Egos sedang berpikir, Egos malah asik dengan dunianya sendiri. Dia bermain sesuai kehendaknya tanpa memikirkan teman-teman sekawannya. Egos bermain tanpa memperhatikan sekitarnya seakan dia punnya dunia sendiri bahkan Egos tidak jarang mengganggu teman-temannya yang sedang berpikir. Teman-teman sekawanan Egos tidak marah karena mereka sudah terbiasa dengan tingkah Egos yang seperti itu.
Setelah perjalanan panjang, sampailah kawanan gajah tersebut ke sumber air yang telah diprediksi keberadaannya. Namun ada satu hal yang diluar harapan mereka, sumber air tersebut kering sehingga tidak ada kawanan hewan lainnya kecuali satu kawanan gajah ini. Gajah-gajah merasa kecewa sehingga salah satu dari anggota kawanan gajah pun menghentakkan kaki menunjukan rasa kecewanya ke tanah dan berteriak-teriak marah di atas mata air yang kering tersebut.
Tapi tak disangka, bekas hentakan kaki tersebut mengeluarkan sedikit air. Kemudian mereka menggali tanah di mata air tersebut berharap tanah yang kering itu mengeluarkan lebih banyak air untuk bisa diminum oleh kawanan. Tetapi tidaklah mudah untuk mendapatkan air disitu, tak ada cangkul, tak ada mesin boor, yang ada hanya kaki, belalai dan gading yang tak terlalu panjang. Kawanan tersebut berusaha sekuat tenaga untuk terus berjuang mendapatkan air dengan keterbatasan mereka.
Karena merasa kesusahan dan terasa berat, Egos pun memilih untuk tidak meneruskan menggali tanah bersama kawanannya. Teman-teman Egos tetap melanjutkan menggali tanah.
Sedikit demi sedikit air terlihat dan keluar dari tanah, tetapi air tersebut masih kotor menjadi lumpur. Air yang keluar belum bisa untuk diminum. Mereka pun harus menggali lebih dalam untuk  mendapatkan air yang cukup untuk bisa diminum.
Kaki-kaki penuh darah, belalai-belalai yang lecet dan gading-gading yang sedikit retak pun tidak menjadi halangan bagi kawanan gajah untuk tetap berjuang mendapatkan air. Mereka berusaha sangat maksimal untuk mendapat air.
Saat itu Egos tidak ikut berjuang bersama kawanan yang menggali tanah, Egos mencoba untuk menghibur dirinya sendiri karena Egos bosan melihat teman-temannya yang berjuang dan tidak mendapatkan hasil. Lalu Egos melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk menghibur dirinya sendiri karena Egos benar-benar bosan dan malas untuk menggali bersama teman-temannya.
Setelah sekian lama berjuang, akhirnya kawanan tersebut mendapatkan air yang cukup untuk bisa dikonsumsi. Kawanan ini tidak langsung meminum hasil jerih payah mereka karena mereka sadar bahwa mereka masih mempunyai teman yang sedang tidak berada ditempat tersebut. Ketua kawanan akhirnya mengutus beberapa gajah untuk mencari Egos yang sedang bermain-main agar Egos bisa menikmati air yang sudah bisa dikonsumsi bersama.
Egos pun datang dengan muka gembira. Ketua kawanan kemudian memberi jatah masing-masing untuk minum karena air yang ada terbatas. Beberapa anggota kawanan sengaja untuk tidak menghabiskan jatah air mereka karena mereka menyisakan untuk nanti. Tak lama kemudian, jatah air Egos telah habis. Egos kehausan karena tadi terlalu asik bermain dan berlarian. Egos merasa kurang dengan jatahnya, kemudian Egos meminta jatah temannya yang belum habis. Egos pun menikmati jatah air dari teman-temannya sampai habis. Kawanan tersebut tidak heran kepada Egos, karena Egos memang selalu begitu. Belalai gajah seharusnya selalu berada di depan, namun Egos selalu menempatkan belalinya di pantatnya, dan selalu begitu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Katanya, Punk Belum Mati!

Didi Kempot, Lebih Dari Sekedar Patah Hati