Katanya, Punk Belum Mati!
"Banyak orang yang mengatakan bahwa Punk yang dijalanan itu adalah Anjal, Anak Jalanan."
Dulu saat aku menggunakan seragam sekolah merah putih, image
punk sudah menjadi sesuatu yang jelek. Beberapa orang mengatakan bahwa Punk merupakan sosok yang hampir seperti
preman yang berkeliaran di jalanan. Mungkin
memang pasca lengsernya The Smiling General memang banyak preman muncul.
Ya walau waktu itu memang banyak rumor bahwa gerombolan Punk
yang dijalanan sering memalak, menodong, dan tak jarang mencuri sesuatu.
Ini serius.
Cerita tersebut memang benar tersebar di daerah
tempat tinggalku dan aku tidak sedang mengarang walau jika aku mengarang pun
kalian tak tahu.
Dulu tidak ada buku yang membahas soal Punk di perpustakaan
sekolahku. Aku amat penasaran dengan apa itu Punk sebenarnya karena tak
terlalu percaya dengan kata orang. Waktu
itu sudah ada teknologi bernama internet yang ada di Warnet. Beberapa hari
setelah pulang sekolah kusempatkan untuk mampir ke warnet untuk mencari tahu
tentang apa itu Punk.
Ada godaan yang sulit untuk dihindari di Warnet waktu itu.
Godaan itu biasanya ada pada satu bilik tempat
di Warnet yang diisi oleh beberapa orang, bisa 3-5 orang dalam satu bilik
bahkan pernah kutemukan 8 orang dalam satu bilik kecil.
Setelah beberapa hari aku mengakses Punk di internet aku tahu
sedikit tentang apa itu Punk dan kuputuskan untuk bergabung dalam kelompok Punk
pada satu sudut kota.
Beberapa waktu setelah aku bergabung dengan kelompok Punk
tersebut, tidak kutemui prinsip dan nilai-nilai Punk yang telah kuketahui dari internet
pada kelompok Punk tersebut. Banyak orang yang mengatakan bahwa Punk yang
dijalanan itu adalah Anjal, Anak Jalanan. Ternyata aku tertipu dengan gaya berpakaian kelompok tersebut. Sejak
saat itu kuputuskan untuk jadi anak rumahan saja.
Yang kutahu baik mohawk ataupun botak, Punk akan selalu
menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan selalu mengumandangkan peperangan terhadap
penindasan. Daripada terdapat
retak dalam pilihan, lebih baik saling menjaga dalam kebersamaan.
Mari belajar seperti anak-anak sekolah yang dulu bisa
bersama-sama dalam satu bilik tempat di Warnet tanpa memandang perbedaan yang
ada. Jangan ambil sisi negatifnya
saja, kalau bisa diambil sisi positifnya ya ambil juga. Baik politikus
ataupun anak-anak Punk mereka juga sama-sama manusia yang tak luput dari dosa.
Namun setidaknya dosa anak-anak Punk lebih sedikit karena kebanyakan mereka menjunjung
tinggi kolektifitas, tidak begitu egois.

Komentar
Posting Komentar