Pak Yosep yang Tak Merayakan Natal




“Bapak,bapak,bapak,” suara Sisi membangunkan bapaknya. “Selamat pagi Sisi, bapak bangun telat lagi ya?balas Pak Yosep kepada anaknya.
            “Bapak besok libur?” tanya Sisi anak perempuan Pak Yosep. Sisi masih berumur 5 tahun bergigi tak rata. Bentuk giginya seperti terowongan kereta jika tersenyum lebar dan tertawa. Rambutnya ikal sedikit pirang, sukanya memakai rok dan jarang mau dia memakai celana. “Bapak besok masuk kerja nak,” jawab Pak Yosep kepada Sisi yang giginya seperti terowongan kereta. “Bapak liburnya kapan?” tanya Sisi lagi. “Bapak tidak ada libur sampai awal tahun nak,” balas Pak Yosep.
            Pagi itu suasana dingin terasa menusuk tulang hingga ke sum-sum. Lagu-lagu bertema natal terdengar dari radio tua yang suaranya masih begitu jernih punya Pak Yosep. Tiap pagi Pak Yosep selalu menyalakan radionya untuk mendengarkan lagu-lagu rohani sebelum ia berangkat kerja.
            Hari itu tanggal 23 Desember tepat memperingati tanggal 23 ke-120 Pak Yosep bekerja di Dinas Kebersihan Kota. Pak Yosep adalah tukang sapu kota yang sudah 10 tahun bekerja tapi tidak jadi pegawai negeri juga, ia hanya seorang tukang sapu biasa yang selalu bersyukur atas pemberian Sang Maha Kuasa. Hari-hari Pak Yosep selalu terlihat begitu indah karena ia ramah dan murah senyum ke setiap orang. Mungkin rasa syukurnya itu membuat Pak Yosep selalu enak untuk dipandang. Walau gajinya tak seberapa, Pak Yosep selalu melakukan pekerjaannya dengan segenap hati dan seluruh bagian tubuhnya.
            “Bapak berangkat dulu ya nak. Kalau mau main jangan jauh-jauh,” pesan Pak Yosep kepada Sisi. Sisi selalu sendirian di rumah jika Pak Yosep sudah berangkat kerja. Ibu Sisi sudah meninggal saat melahirkan Sisi karena kehabisan darah saat proses persalinan Sisi berlangsung. Sisi selamat namun tidak dengan ibunya. Sisi adalah anak yang sangat mandiri, ia bisa melakukan banyak hal tidak seperti anak-anak lain di usianya. Pada umur itu Sisi sudah bisa mencuci piring, menyapu, membereskan tempat tidur hingga ia bisa untuk tidak meminta ayahnya membelikan gadget untuk bermain game. Sisi biasanya bermain dengan teman-teman kampungnya bermain-main permainan tradisional dan merasakan kebahagiaan bersama tanpa kurungan orang tua beserta fasilitasnya. Jika hari sudah mulai petang maka anak-anak itu langsung pulang ke rumah masing-masing. Biasanya saat Sisi pulang dari bermain bersama teman-temannya Pak Yosep sudah berada di dalam rumah. Pak Yosep tak pernah memarahi Sisi karena terlalu sering bermain. Pak Yosep percaya bahwa Sisi memang harus menikmati masa bermainnya, Pak Yosep percaya bahwa dalam masa bermainnya itu Sisi pasti akan belajar sesuatu.
            Sore itu Sisi bertanya lagi kepada ayahnya, “bapak besok libur?”  tanya Sisi kepada bapaknya. “Tidak nak, bapak tidak ada libur sampai awal tahun. Memangnya kenapa nak?” jawab Pak Yosep halus. “ini kan Natal pak, masa sih bapak tidak ada libur untuk merayakan Natal?” tanya Sisi lagi. Jadi kamu ingin merayakan natal to nak?”, “Iya pak, Sisi mau. Tapi kalo bapak tidak bisa gapapa pak,” jawab Sisi halus.
            Setiap malam Pak Yosep selalu mengantarkan Sisi kedalam tidurnya dengan cerita yang selalu dikarang oleh Pak Yosep sendiri. Biasanya cerita-cerita Pak Yosep mudah dipahami oleh Sisi. Sisi biasa meminta cerita yang sudah pernah di ceritakan Pak Yosep kepadanya, Pak Yosep bisa menceritakan ulang walau tak sama persis ceritanya namun alur dan pesan dari ceritanya sama. Sisi biasanya bisa tidur saat ceritanya sudah berakhir.
Setelah mengantarkan anaknya tidur Pak Yosep melanjutkan pekerjaannya yang belum terselesaikan. Pak Yosep bisa menjahit. Sering ada orang meminta Pak Yosep menjahitkan sesuatu. Orang-orang menilai hasil jahitan Pak Yosep bagus maka dari itu banyak orang yang mempercayakan jahitannya kepada Pak Yosep. Seusai Pak Yosep selesai dengan pekerjaan menjahitnya Pak Yosep biasa membaca kitab sucinya terlebih dahulu sebelum ia tidur disebelah Sisi yang sudah tidur terlebih dahulu. Rumah Pak Yosep tidak besar, cukup diisi kasur, beberapa perabotan, ia dan Sisi.
            “Pak, besok bapak natalan?” tanya Sisi kepada bapaknya polos. “Besok bapak tidak libur nak, jadi mungkin bapak tidak bisa ikut natalan,” jawab Pak Yosep halus.
            Siang itu Sisi tak main bersama teman-temannya, ia hanya dirumah membersihkan dan membereskan rumahnya supaya terlihat rapi. Melihat botol-botol plastik bekas yang lumayan banyak, Sisi tidak membuangnya namun ia merangkainya meninggi sehingga berbentuk kerucut. Tak besar hasilnya namun rangkaian tersebut cukup membentuk bentuk segitiga. Rupanya Sisi ingin membuat pohon natal dari botol-botol bekas itu. Sisi terinspirasi dari pohon natal tahun lalu yang berada di alun-alun kota. Ia melihat pohon natal itu ketika Pak Yosep mengajak Sisi jalan-jalan ke alun-alun kota dan membeli kembang gula untuknya.
            Sore harinya Pak Yosep kaget melihat rangkaian botol yang membentuk pohon natal berada didalam rumahnya. Rangkaian botol tersebut dihias sobekan-sobekan kertas bekas warna-warni. “Selamat natal bapak,” ucap Sisi kepada Pak Yosep keras. Pak Yosep tersenyum dan memeluk Sisi, “Selamat natal nak,”. Sebernarnya botol-botol plastik tersebut tersebut dikumpukan Pak Yosep untuk dijual ke loakan, tapi botol-botol tersebut sudah menjadi pohon botol natal sekarang. Pak Yosep bersyukur bahwa anaknya sangat kreatif, dia tidak memikirkan uang hasil penjualan dari botol-botol itu.
            Pagi tepat tanggal 25 Desember Pak Yosep berangkat bekerja untuk membersihkan jalanan-jalan kota seperti biasanya. Sepeti biasa, Pak Yosep selalu bekerja dengan segenap hati dan seluruh bagian tubuhnya.
            Siang itu sangat panas terasa, jarang-jarang panas seperti ini biasanya sedikit siang saja sudah mendung atau malah langsung hujan yang tidak ada permisinya. Saat Pak Yosep sedang berdiri untuk mengistirahatkan tubuhnya tiba-tiba kotak bekas makanan kecil terlempar dari dalam mobil mewah berwarna merah yang sedang melintas di depan Pak Yosep. Air gelasan plastik didalam kotak itu pecah hingga kaki Pak Yosep basah terkena cipratannya. Kotak bekas makanan tersebut terdapat tulisan Selamat Natal dan terdapat ayat alkitab diatasnya. Dengan perlahan Pak Yosep mengambil dan membersihkan kotak bekas makanan kecil tersebut yang masih terdapat beberapa makanan kecil dilamnya.
Pak Yosep melihat mobil mewah berwarna merah tadi yang kemudian berhenti di tempat ATM di seberang Pak Yosep berdiri. Setelah pintu mobil mewah sebelah kiri itu terbuka keluarlah kaki putih mulus dengan sepatu hak tinggi. Setelah seluruh badannya keluar, terlihat sosok perempuan berparas cantik bergaun merah berambut sedikit pirang lurus. Bibirnya berwarna merah merekah seperti bendera Partai Komunis tanpa palu dan arit.
            Dihampirinya perempuan itu, Selamat siang mbak,” sapa Pak Yosep kepada perempuan itu sebelum kembali masuk ke dalam mobil. Terlihat gantungan salib emas pada kalung perempuan itu dan dompet tebal di tangan kirinya. Langsung dilemparkannya dompet itu ke dalam kursi mobilnya. Kenapa pak?” tanya perempuan itu kaget.
Pak Yosep kemudian menyodorkan kotak bekas makanan kecil yang didapatnya tadi kepada perempuan itu. Dengan keadaan bingung perempuan itu menerima kotak bekas makan dari Pak Yosep. Kemudian Pak Yosep menjabat tangan perempuan itu, Selamat natal ya mbak, semoga kasih dan damai Kristus beserta kita semua. Semoga Tuhan tidak perlu mengingatkan untuk membeli tempat sampah supaya tidak buang sampah sembarangan lagi ya mbak. Tuhan memberkati,” ucap Pak Yosep halus sambil menjabat tangan perempuan itu kemudian langsung pergi. Dilemparnya kotak bekas makanan kecil tadi ke tempat sampah setelah Pak Yosep pergi sambil mengomel tidak jelas dan masuk ke dalam mobil.
            Malamnya, sebelum sampai di rumah pak Yosep mampir dulu untuk membeli martabak manis kesukaan Sisi. Hari ini Pak Yosep pulang kerumah sangat terlambat pada malam hari karena banyak sampah-sampah berserakan bekas euforia perayaan Natal. “Sisi belum tidur?” tanya Pak Yosep. “Sisi nunggu bapak dulu,” jawab Sisi. Ini bapak bawain martabak kesukaan kamu,” sambil memberikannya kepada Sisi. Sisi sangat senang dengan kehadiran bapaknya dan martabak yang dibawa.
            “Selamat natal ya anakku, maaf kita belum bisa merayakan natal di Gereja dengan banyak orang seperti orang-orang yang lain,” ucap Pak Yosep sambil mengelus-elus ramput Sisi yang sedang makan martabak manis. “Enggak natalan gapapa pak, yang penting Sisi bisa sama bapak aja Sisi udah seneng kok ditambah ada martabak jadi tambah seneng,” ucap Sisi tersenyum sambil memegang martabak di tangan kanannya.
            Pak Yosep memang tak bisa marayakan euforia Natal di tahun ini dan dari 9 tahun yang lalu karena tuntutan pekerjaannya, namun Pak Yosep dan Sisi saat ini merasakan hangatnya kedamaian keluarga dan kasih Tuhan seperti hangatnya Maria dan Yusuf memeluk bayi Yesus walau pada saat itu situasi tidak menyenangkan karena bayi Yesus diburu oleh Herodes, namun kasih Tuhan menaungi mereka. Pak Yosep memang tidak bisa merayakan euforia Natal, namun Pak Yosep tidak pernah lupa untuk bersyukur dan terus bersyukur. Damai dan kasih Tuhan selalu bernaung pada hati Pak Yosep dan akan turun kepada Sisi nantinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belalai Pantat

Katanya, Punk Belum Mati!

Didi Kempot, Lebih Dari Sekedar Patah Hati