Kopi, Senja, dan Cerita Bahagia




Lebih suka meneguk atau menyeruput kalau kalian menikmati kopi? Kalau aku sukanya kalau ada kopinya.

Kopi dan senja sepertinya sedang naik daun dikalangan anak-anak muda dan sekitarnya.  Kayaknya sih dulu gak terlalu banyak penikmat kopi ya? Atau aku yang tak terlalu update kebiasaan banyak orang sebelum gempuran media sosial? Aku taunya dulu cuma babe-babe yang gemar menikmati kopi, bersama pisang goreng hangat diiringi kicauan burung-burung didalam sangkar. Tidak lupa bawahan sarung yang menjadi sangkar kakinya agar tidak kemana-mana.

Setelah gempuran media sosial, aku baru tahu ternyata banyak juga kawula muda yang menikmati kopi dengan cara mereka sendiri, mulai dari sasetan hingga bijian, dari kedai pinggir jalan hingga dipinggir hutan. Ternyata nggak cuma babe-babe saja yang bisa menikmati kopi.

Belum lama ini sepertinya adanya kopi tak lepas dari senja yang manja dan lagu-lagu yang bersahaja. Maraknya pemburu senja kayaknya sih mengalahkan pemburu koruptor yang ada, ya ini hiperbola.
Masa kecilku sepertinya jarang sekali bertemu dengan senja, biasanya sih habis main layang-layang harus langsung pulang sebelum matahari mulai tenggelam karena beredarnya mitos-mitos yang diperlihara.

Tapi sesekali aku juga pernah telat pulang, bukan gara-gara berburu senja melainkan menyelesaikan pukul-pukulan berebut layang-layang. Tapi langit saat matahari terbenam memang sangat indah dan menawan ditambah menggigit-gigit potongan tebu curian dipinggiran sawah orang sambil membawa layang-layang hasil rampasan.

Itu yang aku tahu tentang kopi dan senja waktu itu, mungkin semuanya sudah berubah seiring berjalannya waktu.

Mau tai anjing atau tai ashu atau taimu sendiri atau tai tai yang lainnya, kopi dan senja akan tetap sama. Dia akan selalu ada dengan beragam cara untuk menikmatinya. Bersyukurlah kita semua karena kopi dan senja tak perlu diributkan atas nama agama. Tapi ya nggak tahu juga gimana nantinya kalau pas lagi butuh keadaannya.

Terimaksih Sang Pencipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belalai Pantat

Katanya, Punk Belum Mati!

Didi Kempot, Lebih Dari Sekedar Patah Hati