Refrensi Buku Eka Kurniawan
Baru di akhir 2017, aku membaca novel garapan Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Padahal,
novel tersebut pertama kali terbit pada 2014. Ya maklum, aku tidak mengikuti
isu perbukuan dan kesusastraan. Aku pun tahu novel itu karena rekomendasi
beberapa teman. Aku kemudian membeli buku itu di Yogyakarta, bersama salah satu
kumpulan cerpen Eka, Corat-Coret di Toilet.
Namun, kali ini aku cuma mau menuliskan pertemuanku dengan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.
Hal yang pertama kali
menggelitik pikiranku adalah judul novel tersebut: cukup unik! Pandangan
masyarakat mengenai kata “dendam” yang terkesan begitu sangar, namun di situ
Eka menyandingkannya dengan kata “rindu” yang terdengar begitu lembut. Mulanya,
aku belum bisa membayangkan seperti apa novel itu sebelum membacanya. Judulnya
terasa begitu sangar, namun tersirat kelembutan di dalamnya.
Aku kemudian
memerlukan waktu dua hari untuk membaca novel itu. Mungkin aku terlihat cepat
dalam membaca, tetapi sebenarnya aku bukanlah pembaca yang baik. Biasanya aku
memerlukan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu untuk membaca dan
memahami isi sebuah buku. Namun, novel itu begitu menarik bagiku sehingga
membuatku meluangkan waktu untuk membacanya. Rasanya, aku tak ingin beranjak
pergi, jika aku belum selesai membaca.
Usai membaca
novel itu aku kemudian berpikir, aku tak ingin bernasib seperti Ajo Kawir. Ajo
Kawir, tokoh utama dalam novel tersebut digambarkan sebagai sosok pemuda yang
putus asa, karena suatu kejadian yang menimpa dirinya.
Kejadian yang
tak bisa dilupakan Ajo Kawir berkaitan dengan burung kecil miliknya. Burung itu
tak bisa berkicau lagi. Padahal, burung itu amat berharga baginya, tetapi ada
dua polisi yang memaksa burungnya tak bisa tampil lagi di dunia perkicauan.
Meski burung polisi itu sendiri berkicau di luar pementasan, namun polisi
tersebut tetap menganggapnya baik-baik saja.
Alur Maju Mudur
Eka
menceritakan tokoh utamanya dalam latar dan waktu yang berbeda-beda. Karena itu
pula, kemudian terlihat begitu jelas perkembangan psikologis dari karakter
rekaannya. Dalam kisah itu, Ajo Kawir diceritakan sebagai sosok yang sok jagoan
pada masa remaja. Namun, perkembangan psikologinya jelas terlihat saat ia
memasuki usia dewasa. Alur cerita dalam novel itu maju-mundur.
Bumbu-bumbu
percintaan juga ditambahkan di novel itu. Iteung adalah tokoh yang berpasangan
dengan Ajo Kawir sehubungan dengan kisah cintanya. Namun, terdapat problematika
cinta dengan hubungan mereka yang sangat seru untuk dinikmati pembaca. Eka juga
menceritakan tentang kerasnya bertahan hidup di kalangan kelas menengah-bawah
dalam novel tersebut. Orang kelas menengah-bawah lebih banyak mengandalkan otot
mereka untuk bertahan hidup.
Vulgar dan Serius Dalam Kasus
Selain cerita
yang terasa ringan untuk dibaca, Eka juga menyelipkan sesuatu yang cukup serius
dalam novelnya. Misalnya, kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum polisi,
dan guru tersaji. Namun kembali lagi, melalui novel itu Eka mengemas kisah
secara ringan dan mudah untuk dibaca. Kepiawaian Eka dalam menulis cerita
memang tidak diragukan lagi.
Seperti
Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas berlabel
21+. Sekedar mengingatkan pembaca, bahwa novel itu ditujukan bagi orang dewasa.
Bagiku novel itu amat vulgar. Mungkin beberapa orang akan risih saat membaca
novel itu, karena Eka menggunakan kata dan adegan vulgar di dalamnya. Jadi
mungkin untuk orang-orang yang belum bisa menerima bahasa dan cerita vulgar,
lebih baik lekas bergantilah ke novel lainnya.
Apa yang
kudapat dari novel itu, mungkin tentang pencapaian seseorang terhadap sesuatu
yang benar-benar diinginkan, dan selalu dikejar namun tak selalu berjalan
sesuai harapan. Ada juga pesan moral di dalamnya, yaitu, jika sesuatu yang
diinginkan dikerjakan secara iklas, tidak terlalu obsesif, maka sesuatu itu
akan datang dengan sendirinya. Selain pesan moral, adegan vulgar yang
diceritakan cukup membuat otak menjadi lebih segar.
Bagi pembaca yang gemar dengan konflik berat tapi dikemas secara ringan,
novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas barang
kali dapat menjadi salah satu opsi pilihan. Melalui novel itu, pembaca dapat
menikmati pikiran liar seorang Eka Kurniawan.
Deskripsi Buku:
Judul:Seperi Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis:Eka Kurniawan
Tahun:2016
Tebal:243 Halaman
Penerbit:Gramedia Pustaka Utama
Judul:Seperi Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis:Eka Kurniawan
Tahun:2016
Tebal:243 Halaman
Penerbit:Gramedia Pustaka Utama


Komentar
Posting Komentar