Pheli Manuke
Ada yang tahu pagi yang sempurna itu seperti apa? Kalo menurutku pagi
yang sempurna itu adalah sebuah pagi dimana aku bisa bangun di bawah jam 6
tanpa merasakan kantuk lagi. Pagi itu tiba-tiba aku bisa mendengar kicauan burung
dan suara sapu lidi yang digesekan di jalanan, bukannya kicauan politik dan
gesekan antar ideologi. Sunggu pagi yang sempurna untuk untuk seorang pemuda insomnia.
Sebelum beranjak dari kasur
kesayangan, kupakai celanaku dahulu untuk menutupi mata dari burungku yang tak
bisa berkicau ini agar tidak liar mencari-cari sarang untuk mengerami telurnya.
Untungnya dia tak bisa berkicau, payah juga kalau dia pandai berkicau. Mungkin
dia bisa jadi politikus handal dan aku tak lagi menjadi atasannya.
Lagu lama dari Iwa K berjudul
“Bebas” biasa kuputar untuk sekedar mengahapalkan lirik namun tak kunjung hapal
juga. Aku dulu berkeinginan untuk bisa menjadi rapper namun mengahapal satu lagu saja aku tak mampu. Untung aku
tak punya cita-cita menjadi suami yang baik, mungkin aku akan hafal rasa dari
istriku tapi mungkin susah menghapal mukanya. Hentikan!
Aku bergegas menuju kamar mandi
untuk menyikat gigiku dan mencuci mukaku. Saat di dalam kamar mandi Wanto
memintaku untuk segera keluar. Dia tak nyaman saat aku berada di dalam kamar
mandi bersamanya. Pagi itu masih terasa sangat dingin, suhunya 18 derajat
celcius. Pantas saja Wanto tak ingin mati kedinginan.
Seusai dari kamar mandi aku dan Wanto
bergegas keluar dari rumah menuju pos kampling yang berada di seberang rumah
untuk menghangatkan diri. Nama sahabatku dari kecil ini sebenarnya Pheli Manuke
tapi aku sering memanggilnya Wanto. Wani ditoto.
Pagi itu Wanto bertanya kepadaku,
“Apa yang akan kau lakukan hari ini? Sepertinya kau tak terlihat seperti
biasanya. Sangat bersemangat”. Aku menatap Wanto yang sedang santai di depanku.
“Jika aku semangat apakah kau juga merasakannya?” tanyaku sambil menghadapkan mukaku
kepadanya.
Tubuhku mulai menghangat sehangat
cintaku padanya. Cintaku padanya hangat-hangat tai ayam namun tai tersebut
selalu dierami oleh induk ayam yang menganggapnya sebuah telur jadi tetap
hangat dan tak pernah menetas, tak pernah berubah.
Siang harinya aku dan Wanto memustuskan pergi ke kampus untuk meminjam
buku di perpus kampus. Entah kenapa buku yang kami pinjam tak pernah dipahami
sedikitpun oleh Wanto. Mungkin dia memang bebal dari sononya, hanya hal-hal
yang mesum yang bisa dia pahami sampai sekarang ini.
Setelah meminjam beberapa buku dari perpus kampus kami memutuskan untuk
nongkrong dulu di café kampus dulu. Kami menemui teman kami dan kami
mengobrolkan banyak hal. Banyak orang disana, baik yang nongkrong atau hanya
sekedar lewat. Bagian kesenanganku adalah saat temanku berbagi cerita yang baru
kepadaku dan kemudian kami mendiskusikan hal itu, namun berbeda dengan Wanto.
Dia sangat gemar mengamati perempuan-perempuan yang berlalu lalang melewatinya,
namun hal yang sedikit baik darinya adalah dia tidak pernah menggoda perempuan
yang lewat. Dia sedikit menurut saat aku pernah berpesan kepadanya bahwa tidak
semua perempuan nyaman jika digoda oleh laki-laki, dia pun mengerti. “Kalau aku
pasti akan nyaman jika digoda oleh perempuan-perempuan itu,” kata Wanto cengingisan
sambil sedikit menunjuk segerombolan perempuan.
Saat aku sedang asik membahas topik yang menarik dengan temanku, Wanto sering
menginterupsiku saat dia melihat perempuan yang menarik untuknya. Aku selalu
masa bodoh dengan interupsi Wanto, namun dia selalu saja memintaku untuk
sekedar melihat perempuan yang dia suka. Banyak sekali perempuan yang
disukainya namun batasan moral selalu dia pegang sebagai prinsip hidupnya.
Mesum terhormat, begitu Wanto menyebutnya.
Wanto bukanlah tipe seorang yang gemar pergi ke tempat peribadahan untuk
beribadah, baginya tidak merugikan orang lain merupakan suatu bentuk lain dari
beribadah juga. Sebenarnya dia ingin juga pergi ke tempat peribadahan seperti
kebanyakan orang, tapi dia malu karena dia terlalu mesum. Dia tak ingin dosanya
berlipat-lipat.
Setelah aku merasa cukup berada di kampus, aku mengajak Wanto untuk
berkeliling mencari barang-barang bekas di pasar loak. Aku senang melihat-lihat
barang yang ada disana dan berharap mendapatkan barang yang aku inginkan dengan
harga yang miring.
Aku kemudian mendatangi sebuah lapak buku bekas yang sering aku datangi
saat berada di pasar loak. Aku melihat-lihat banyak buku dan sesekali aku ambil
dan kubaca sedikit-sedikit untuk mencari ketertarikanku. Wanto yang berada di
dekatku berbisik kepadaku, “Lihatlah majalah yang ada di atas dekat pintu,
ambilah itu untukku”. Terlihat gambar seorang perempuan mengenakan pakaian
renang berwarna merah keluar dari kolam renang. Wanto mengungkapkan bahwa tubuh
dari perempuan itu telihat seperti ukulele yang sedang aku inginkan. “Pas
untukmu, pas untukku,” ucap Wanto sambil tertawa.
Kami pun pergi dari lapak buku bekas itu kemudian berjalan mengitari
pasar. Tiba-tiba Wanto mengehentikan langkahku dan membawaku sedikit mundur.
“Kau lihat perempuan itu?” tanya Wanto.
“Yang mana?”
“Yang di keramaian itu.”
“Yang mana?” aku mencari-cari.
“Mbak-mbak SPG itu, yang pakai pakaian biru putih,” tunjuk Wanto dengan
mukanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Dia bagai bidadari yang dikerumuni oleh monster-monster jahat.”
Aku terdiam.
“Wajahnya seperti es teh dikala panas, tubuhnya seperti gitar kastem
yang pernah kau beli.”
Aku masih terdiam.
“Sepertinya kaki dari mbak-mbak itu bisa aku pakai bermain seluncuran,”
kata Wanto tertawa.
Aku tak merasa nyaman dengan obrolan Wanto dan aku pergi. Wanto
menarikku karena dia belum ingin beranjak pergi. Aku tetap berjalan dan Wanto
masih ingin tetap bertahan. Aku menjitak kepala Wanto dan mengajaknya pergi,
namun Wanto tetap bertahan dan malah ingin mendekat menuju perempuan itu.
Kujitak kepala Wanto lebih kencang lagi. “Ayo pergi. Kau pasti tak ingin
kusamakan dirimu dengan monster-monster jahat itu kan?”, “Oke, tetap masum
terhormat,” balas Wanto berjalan pergi mendahuluiku.
Seusai dari pasar loak kemudian aku meneruskan petualanganku hari ini.
Aku mempunyai beberapa janji dengan temanku dan Wanto tetap ikut bersamaku
memenuhi janji-janjiku. Sampai akhirnya malam tiba dan kami memutuskan untuk
langsung pulang saja walau sebenarnya masih ada tawaran nongkrong bersama
teman-temanku.
Aku dan Wanto akhirnya memutuskan untuk langsung tidur saja. Kami
berbagi ruang yang sama di rumah. Sebelum aku tidur ku kunci pintu kamarku dan
kumatikan lampu kamarku. Kemudian kulepas baju dan kulepas celanaku juga. Aku
begitu nyaman tak mengenakan pakaian saat tidur. Begitu juga dengan Wanto yang
bisa terbebas dari kekangan celanaku yang lumayan ketat seharian. Kupersilahkan
Wanto untuk bebas melakukan apa saja, ngolet sana-sini juga kuperpolehkan.
Malam itu Wanto akan menjadi Wanto yang seutuhnya.
“Selamat tidur Wanto. Esok bangunkan aku jika kau juga sudah terbangun.”

Komentar
Posting Komentar