Otong Si Pengarang Lagu Anak-anak





Alkisah ada seorang anak bernama Otong yang amat sangat lugu dan polos. Dirinya tinggal dilingkungan yang menghalalkan kekerasan sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan banyak hal. Setiap hari dirinya melihat tindakan-tindakan kekerasan tersebut. Tidak hanya melihat, akhirnya Otong pun juga menjadi korban kekerasan atas teman-temannya dan melakukan hal yang sama. Kekerasan sudah seperti candaan atas mereka.

Di lingkungan dipukuli, di masyarakat memukuli.

Otong hidup dan tumbuh besar dilingkungan tersebut sehingga Otong juga melakukan hal serupa kepada juniornya di lingkungan itu.Namanya juga senior, junior harus tunduk,” itulah yang selalu ditanam di lingkungan tersebut. Kisah ini tidak berhubungan dengan orla, orba atau yang ora-ora.

Budaya kekerasan tersebut menjadi sebuah hal dianggap biasa saja pada lingkungan itu hingga kadang jugag bisa menjadi bahan becandaan saja. Mereka para senior tidak sadar bahwa mereka menanamkan dendam pada junior-junior mereka. Mereka lupa bahwa dendam yang kesumat gampang untuk disumet.

Suatu hari Otong mendapati bahwa di belahan bumi lainnya banyak manusia yang meminimalisir adanya kekerasan untuk dapat hidup damai di dunia. Otong juga menemukan sebuah aksi revolusi yang menggunakan jalan damai. Orang-orang gila tersebut menginginkan kedamaian dengan menggunakan jalur yang damai pula. Penggagas aksi tersebut pernah menyebutkan bahwa "An eye for an eye only ends up making the whole world blind". Entah apa artinya, sepertinya keren untuk diucapkan dengan logat yang medok.

Setelah mengetahui hal tersebut Otong lantas mandi dan bersampo untuk menyegarkan dirinya. Tidak lupa untuk menggosok gigi. Habis mandi kutolong Ibu membersihkan tempat tidurku.

Kalimat tersebut mirip dengan hegemoni lewat lagu oleh orang tua jaman dahulu. Lagu yang diajarkan dan dinyanyikan secara berulang-ulang tersebut tidak membuat Otong lantas rajin untuk menolong Ibunya, karena Otong tidak pernah diajarkan lagu itu oleh Ibunya. Sering kali Otong malah mengubah lirik lagu tersebut menjadi tidak karuan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belalai Pantat

Katanya, Punk Belum Mati!

Didi Kempot, Lebih Dari Sekedar Patah Hati