Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Katanya, Punk Belum Mati!

Gambar
" Banyak orang yang mengatakan bahwa Punk yang dijalanan itu adalah Anjal, Anak Jalanan." Dulu saat aku menggunakan seragam sekolah merah putih, image punk sudah menjadi sesuatu yang jelek. Beberapa orang mengatakan bahwa Punk merupakan sosok yang hampir seperti preman yang berkeliaran di jalanan. Mungkin memang pasca lengsernya The Smiling General memang banyak preman muncul. Ya walau waktu itu memang banyak rumor bahwa gerombolan Punk yang dijalanan sering memalak, menodong, dan tak jarang mencuri sesuatu. Ini serius. Cerita tersebut memang benar tersebar di daerah tempat tinggalku dan aku tidak sedang mengarang walau jika aku mengarang pun kalian tak tahu. Dulu tidak ada buku yang membahas soal Punk di perpustakaan sekolahku. Aku amat penasaran dengan apa itu Punk sebenarnya karena tak terlalu percaya dengan kata orang. Waktu itu sudah ada teknologi bernama internet yang ada di Warnet. Beberapa hari setelah pulang sekolah kus...

Refrensi Buku Eka Kurniawan

Gambar
Baru di akhir 2017, aku membaca novel garapan Eka Kurniawan ,  Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas . Padahal, novel tersebut pertama kali terbit pada 2014. Ya maklum, aku tidak mengikuti isu perbukuan dan kesusastraan. Aku pun tahu novel itu karena rekomendasi beberapa teman. Aku kemudian membeli buku itu di Yogyakarta, bersama salah satu kumpulan cerpen Eka,  Corat-Coret di Toilet . Namun, kali ini aku cuma mau menuliskan pertemuanku dengan  Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas . Hal yang pertama kali menggelitik pikiranku adalah judul novel tersebut: cukup unik! Pandangan masyarakat mengenai kata “dendam” yang terkesan begitu sangar, namun di situ Eka menyandingkannya dengan kata “rindu” yang terdengar begitu lembut. Mulanya, aku belum bisa membayangkan seperti apa novel itu sebelum membacanya. Judulnya terasa begitu sangar, namun tersirat kelembutan di dalamnya. Aku kemudian memerlukan waktu dua hari untuk membaca novel itu. Mungkin aku terlihat ce...

Pheli Manuke

Gambar
Ada yang tahu pagi yang sempurna itu seperti apa? Kalo menurutku pagi yang sempurna itu adalah sebuah pagi dimana aku bisa bangun di bawah jam 6 tanpa merasakan kantuk lagi. Pagi itu tiba-tiba aku bisa mendengar kicauan burung dan suara sapu lidi yang digesekan di jalanan, bukannya kicauan politik dan gesekan antar ideologi. Sunggu pagi yang sempurna untuk untuk   seorang pemuda insomnia.             Sebelum beranjak dari kasur kesayangan, kupakai celanaku dahulu untuk menutupi mata dari burungku yang tak bisa berkicau ini agar tidak liar mencari-cari sarang untuk mengerami telurnya. Untungnya dia tak bisa berkicau, payah juga kalau dia pandai berkicau. Mungkin dia bisa jadi politikus handal dan aku tak lagi menjadi atasannya.             Lagu lama dari Iwa K berjudul “Bebas” biasa kuputar untuk sekedar mengahapalkan lirik namun tak kunjung hapal juga. Aku...

Otong Si Pengarang Lagu Anak-anak

Gambar
Alkisah ada seorang anak bernama Otong yang amat sangat lugu dan polos. Dirinya tinggal dilingkungan yang menghalalkan kekerasan sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan banyak hal. Setiap hari dirinya melihat tindakan-tindakan kekerasan tersebut. Tidak hanya melihat, akhirnya Otong pun juga menjadi korban kekerasan atas teman-temannya dan melakukan hal yang sama. Kekerasan sudah seperti candaan atas mereka. Di lingkungan dipukuli, di masyarakat memukuli. Otong hidup dan tumbuh besar dilingkungan tersebut sehingga Otong juga melakukan hal serupa kepada juniornya di lingkungan itu. “ Namanya juga senior, junior harus tunduk,” itulah yang selalu ditanam di lingkungan tersebut. Kisah ini tidak berhubungan dengan orla, orba atau yang ora-ora. Budaya kekerasan tersebut menjadi sebuah hal dianggap biasa saja pada lingkungan itu hingga kadang jugag bisa menjadi bahan becandaan saja. Mereka para senior tidak sadar bahwa mereka menanamkan dendam pada junior-jun...